Rabu, 01 Agustus 2012

Awal ~ Akhir

Sungguh..

Penghayatan rasa ini semakin dalam tuk menuntaskan episode demi episode cerita dalam kisah kehidupan
Sekedar melakoni tanpa mampu melawan kehendak semesta
Berjalan dan berlari menuntaskan skenario yang masih
dan masih terhubung benang merah
Yang semakin berakar dan berkarat
Menggeliatku di dera rindu
Menggelitik hatiku demi waktu yang tak berujung —

J. Ruskin..
' Kau harus menjadi lentera bagi dirimu sendiri . Mendekatlah pada Cahaya didalam dirimu , maka kau tidak perlu mencari naungan lain , 'karena pula Jiwa adalah cermin yang dengannya kau melihat pantulan kecerdasan illahimu jua ---

Minggu, 10 Juni 2012

sOn4t4

Do
Adakah kau saksikan aku mendengarkanmu ?
Padahal aku tidak bisa mendengarkanmu. Tetapi aku ingin kau tau bahwa aku sedang mendengarkanmu.
Padahal kau tidak bisa menyaksikan aku sedang mendengarkanmu. 
Tetapi kau bisa mendengarku seperti aku bisa menyaksikanmu.
Baiklah.
Akan kuceritakan saja kepadamu.
Kusaksikan kau melentingkan denting di dalam hening, di dalam sunyi yang meraja.
Bertakhta dengan mahkota sepi. Karena tidak ada sebuah suara pun yang mampu kutangkap.
Tetapi aku mampu menyaksikan kau menusukkan senyap dari matamu, mata tanpa warna.

Re
Jangan lupa, di sini ada yang gelisah.
Di sini sepi. Terlalu sepi sampai menggelisahkan. Bagaimana denganmu ? 
Kurasa kau tidak pernah merasa sepi karena kau punya tuts-tuts yang menciptakan lagu.
Adapun tuts-tuts yang kumiliki selalu bertanya sendiri, menjawab sendiri, berbicara sendiri.
Tetapi sejak mengenalmu, aku jadi suka berbicara padamu, bercerita untukmu, bertanya padamu, menanti jawabanmu. Walau tidak ada satu bunyi pun yang kudengar darimu. Tetapi bukankah kau mendengarku?
Kau tidak perlu melihatku seperti aku melihatmu. Karena aku malu bila kau bisa melihat gelisah di mataku.
Gelisah yang sudah terlalu lelah mendesah. Tentang malam yang semakin terasa panjang dan aku terjebak di dalamnya. Gelisah hendak bercerita padamu. 
Apakah kau juga punya rasa gelisah yang sama?  

Mi
Kuceritakan tentang seorang lelaki yang begitu rajin mengumpulkan reremahan serbuk. 
Itu remuk-remuk yang tak pernah diperhatikan orang. Tetapi dipadatkannya menjadi batang arang yang menebarkan hangat dari baranya. Berwarna hitam kemerahan. 
Seperti hati yang menyimpan kerinduan. Ketika api menyalakannya, ia tidak menghanguskan. Tetapi lebam menjadi merah yang legam. Hanya menimbulkan bunyi gemeretak yang terdengar malu-malu.
Jangan kemana-mana. Jangan ada siapa-siapa. Jangan ada apa-apa.
Hanya kita di sini, diam saja, mendengar suara cinta.
Bukankah di dalam cinta, kebungkaman lebih berarti daripada percakapan ?

Fa
Padamkan nyalanya! Padamkan nyalanya!
Itu suara terakhir yang ditangkap gendang telingaku. Karena setelah itu yang bisa kudengar hanyalah senyap yang merayap. Tidak pelan-pelan. Tetapi langsung menguasai seluruh alam semesta.   
Tidak ada suara angin berciuman dengan dedaunan, tidak ada suara air yang menyentuh bebatuan, tidak ada suara awan yang berpelukan dengan hujan, tidak ada suara kemarahan, tidak ada suara tangisan, tidak ada suara kerinduan. 
Aku menjadi sang sepi yang sendirian. Menjadi maharaja sunyi.
Tapi, taukah kau bagaimana rasanya terbakar ?
Rasanya begitu sepi.
Bisakah kau memadamkannya ?

Sol
Maka aku tidak perlu kau bisa menyaksikanku. Aku tidak perlu matamu untuk memandangku.
Bukankah cinta memang buta? Cinta tidak perlu mata. Cukup telinga untuk mendengarkan apa kata suara. Suara cinta.
Aku juga tidak perlu telinga. Bukankah cinta juga tuli? Cinta juga tidak perlu telinga untuk mendengarkan terlalu banyak kata-kata. Cukup hati yang bicara. Bicara cinta. 
Jadilah kita sepasang kekasih yang diam-diam saja di sini. Seperti penulis tuli yang jatuh cinta kepada pianis buta. Memang tidak perlu ke mana-mana bukan? Bukankah kau selalu mendengarkanku seperti aku setia menyaksikanmu?

La
Matamu adalah mata lelaki yang memanah matahari. 
Bidikanmu tepat mengenai jantung matahari. Meledak jatuh menghujanimu dengan pijar-pijarnya. Ada letupan yang jatuh dimatamu.
Sangat menyilaukan sampai kau tidak mampu melihat yang lain kecuali kemilau. Letupan lain menembus hatimu. Meluluhkan. Maka beku di hatimu menjadi banjir. Membanjir sampai ke hatiku juga. Lalu aku hanyut mengalir di banjirmu.

 Si
Tidak ada cinta yang pilu. Cinta selalu merdu. 
Aku gembira bila bisa membuatmu gembira. 
Tapi, apakah kau masih akan cinta padaku? Bila kau bisa meraba parut di seluruh wajahku? 
Oh, kau membuatku ingin menangis!
Aku takut rindu ini akan menjauh. 
Aku takut kehilanganmu! 


Do
Aku takut kau berhasil membacaku. Lalu kau tahu bahwa aku cuma sebuah cerita usang yang tidak menarik. Aku cuma sebuah buku kumal, lecek, berdebu dan sudah sobek-sobek. Kau pasti malas untuk membacaku sampai halaman terakhir. Mungkin kau hanya sampai pada halaman-halaman pertama, lalu kau akan menghentikan dan menggeletakkannya.
Kupejamkan mataku untuk mengatasi rasa takutku.  
Aku tidak siap bila harus kehilanganmu.
Kemudian, kau mainkan lagu di atas rambut, kening, mata, bibir, dada, sampai kakiku. Kau membuatku menukik ke tangga nada tertinggi dan meluncur ke tangga nada terendah. 
Gemetarku karena nada-nadamu yang kejar mengejar itu.


Do re mi fa sol la si do
Ketika kau selesai membacaku, rasanya, aku mendengar desar yang menjadi sonata paling indah.

Karya : Lan Fang  (Cerpen Indonesia Terbaik 2009)
 

Rabu, 23 Mei 2012

H.1.M

Tomorrow and today are the same for me
I still need him to be happy
And this is my destiny
That's what I always see

But what kind of man is he
I really don't know exactly
He said, I am so sweety
But he never gave identity
Makes me still confuse maybe
I know he is so lovely
Last night I saw him by the sea

Maafkan aku
karena telah mencintaimu lebih dari seharusnya
karena telah menunjukkan cintaku
dengan cara yang tidak pernah bisa engkau baca

Sebab
Telah kuikat erat-erat kedua sayapku
agar tak mengepak dan membawaku terbang
lebih jauh dari tempatku bersembunyi

Telah kututup rapat-rapat bilik hatiku
agar tak tembus kehangatan lain selain kehangatanmu

Telah kurekatkan serekatnya tiap sudut bingkai hidupku
agar cukup sudah cinta, sepenuhnya.

Telah kukatupkan rapat kesepuluh jariku, serapatnya
agar lebih lama terasa hangat jari-jarimu

Tapi
aku harus cepat pergi dari hatiku sendiri
aku harus menusuk tajam jantungku
sebab cinta ini lebih kuat dari kehidupan
bahkan dari kehidupanku sendiri
aku tak lagi mampu membuatku hidup

Aku menunggu bisu malam
menjemputku pulang
 

Notes di Facebook 23-05-2012
(--pada sebuah mimpi--)

Selasa, 22 Mei 2012

Kamu, untukku





Aku belajar membaca hatimu
dengan segala detak kasihmu yang mengaliri setiap nafas hidupku.
Bersayap, menebar kelopak bintang
untuk menjagai dan mewarnai serat hari-hari.
Membiarkan langit melindungi harapan
karena langit tak pernah punya titik
dan udara memberi tenaga untukku tanpa meminta.

Seperti saat matahari memberikan nadinya dan bulan menciptakan doa
begitulah kamu menyerahkan hidupmu
untuk menjadikan aku seorang yang berhati,
bisa mengerti tentang kasih dan cinta.

Dengan sederhana, kamu mengajarkan padaku
bagaimana menghargai setiap yang baik sampai ke keindahan yang patah.
Disemua warna, kamu tak mengijinkan aku diam seutuhnya.
Sesulit apa melihat warna pada air, di doanya akupun dapat merasakan.
Dibuatnya buku dan pengetahuan buatku.
Serta dianyamnya kebaikan yang seimbang dengan keajaiban.
Diraciknya semua bahan dan bumbu kehidupan
sehingga aku dapat menikmati apa pun rasanya dan bagaimana hikmahnya.
Antara siang dan malam tak ada batas menjalin tangannya.
Ada ketika minta, ada ketika tak meminta.

Jika terkadang petir menjadikan hujan, itu adalah poses,
begitu selalu katanya.
Mengapa tak saja bijaksana menikmatinya.
Tanpa amarah tanpa merah.
Karena apa yang telah terjadi kemarin
bisa beribu makna untuk masa nanti.
Tahu, jika hari dalam hitungan yang sempurna.
Termasuk dalam pembelajaran tentang hidup,
tentang akar yang mengalirkan napas pada batang, daun dan bunga.

Ketika matahari telah berganti entah untuk ke berapa,
tiba-tiba sinarnya tergeletak ke tanah.
Sekuat tenaga,
aku berusaha mencari kupu-kupu putih bersayap lebar untuk menopangmu.
Tak mampu.
Bukannya membentang taman untuk menyandarkanmu,
tapi seringkali aku yang membakar daun
hanya karena aku merasa lelah membawamu pada kesembuhan.

Bergumam tanpa suara, kamu menyembunyikan kesahmu,
mengubur ekspresi dalam pusaran mimpi yang panjang.
Walau begitu pedihnya kesakitan itu mengaliri raga dalam hirupan.
Belum lagi sempat kubawa istana biru untukmu,
tak ada lagi udara dalam sosokmu.
Aku kehilanganmu.
Meski katamu, kita tak berpisah, hanya tak mungkin lagi bertemu di sini lagi.

Aku belajar membaca hatimu sampai detaknya telah terhenti.
Begitulah caraku mencintaimu.
Karena telah kuberikan segala cintaku dalam genggamanmu.
Dan setengah napasmu ada dalam tubuhku.
Terima kasih untuk kasihmu yang abadi, tak akan pernah henti.

RIP -- In memoriam --
--TDW-- 

Selasa, 01 Mei 2012

Nyanyian Seorang Lelaki Bungkuk



Oleh : Ang Jasman ..

Lihat! Seorang pejalan malam dipanggang bening subuh
bungkuk tubuhnya memikul kerinduan teramat panjang
sepasang kakinya yang kering dengan setia meniti jalan jelaga.
Tak peduli dingin membekukan arah pulang
api di dadanya membakar reranting yang merintang
selalu terbetik harap di dasar ruh menguak tabir halimun.

Dikuatkannya tekadnya di penghujung sisa napas buat menyudahi langkah
sekujur tubuhnya basah kepasrahan yang tak sudah seperti ricik hujan
setia menggantikan kemarau kembali membasuh bumi.

Di penghujung sisa nafas tinggal satu
mentari dari Tabriz menyapa dengan silaunya
juga senyum lembut Jalalluddin Rumi murid terkasihnya .

Ada juga kepak anggun rajawali al-Hallaj dan Siti Jenar
berkalung darah, cinta dan kepasrahan atas nama kasih
seperti Jatayu tersungkur di birahi angkara Sang Rahwana.

Khaidir dan Rabiah al-Adawiah bawa kendi air cinta kasih
pemuas dahaga jiwani penyilih debu-debu duniawi.

Lihat! Seorang pejalanan dengan kaki kering penuh borok
tak serahkan langkahnya meski orang-orang suci itu membasuh dosa
dengan kasih mereka yang tulus.

“Biarkan tubuh busuk ini tersungkur di kakinya dimana debu
lebih lezat dari makanan para raja dunia
lebih indah dari mahkota baiduri para puteri istana.
Kan kulunaskan rinduku dalam tatapannya dibakar agung wajahnya.
Tinggalkan saja aku disini di kaki bukit dan tepian mata air ini
berselimut kabut beralas angin dingin.
Gigil tubuhku adalah tarian ruh paling gemulai.
Gemerutuk gigiku adalah tembang pujian paling merdu.
Kusilang sudah separuh bumi di angin beku dan kemarau
takkan pernah kupinjam langkah kalian.
Terik dan api mentari menyegarkan dadaku
ricik dan air bah mengurai keringatku.
Tinggalkan saja aku disini di jalan yang menjadi bagianku
berteman bulan dan bintang-bintang yang selalu setia menemaniku.”

Syahdan, para suci itu terus mengayun langkah pujian
berjubah cahaya kemuliaan Sang Penyayang
tapi hati mereka tertinggal di dada lelaki bungkuk itu.

Jalan ini memang milik sendiri yang mesti ditempuh
dengan kaki sendiri dan hati meski jarak tak tampak mata
memasuki kuping sendiri menemui Sang Dewa Ruci.

For, someone..
(..kiranya ketabahan telah menjadi milikmu untuk teguh membawa kerinduan itu pada bidadarimu..)
Luv..peace..nd regreat

Senin, 12 Maret 2012

River Side

River Side by Sebuah perjalanan2
River Side, a photo by Sebuah perjalanan2 on Flickr.
In the beginning...
Ini adalah awal dari sebuah perjalanan yang bila dilalui ada banyak cerita di dalamna. Warna warni sebuah persahabatan mewarnai hari2ku. Ada persaingan, ada tawa, ada tangis..nd ada kamu (iisshh..). Mungkin inilah yang membuat aku bisa bertahan pada sebuah pulau yang terapung. ^-^

Here I am by Sebuah perjalanan2
Here I am, a photo by Sebuah perjalanan2 on Flickr.
@finally..
Mo tau rasana.. ?? Jantung terasa mo copot. Bayangkan..suasana baru, nd tentu saja masalah baru musti dihadapi. Kibarkan bendera... S.E.M.A.N.G.A.T.T.T.T.T
(jadi inget kata2 vini vidi vici neg..yang terjemahan bebasna I am coming nd I am losser..hah..???salah ngk neg..xixixi)

Kamis, 05 Januari 2012

Cinderela Time@night


Rasaku adalah rasamu
Rasamu adalah rasaku
Karena kita pernah menyatu..dan akan kembali menyatu

Aku berjalan ke arah satu..
Kau pun berjalan ke arah satu..
Kita bertemu di satu titik..

Maukah kau gandeng tanganku....
Melewati titian 1 dibelah 7
Satu dan tujuh...
Satu tujuan...

menyatu...Menyatulah ..diriKU dan diriMU.....


Pro : Vyn..Vyn..Vyn..
So far, so good..hmmm..